Pages

write it down

Dalam hidup yang kita jalani pasti telah melalui dan menghadapi banyak masalah – apalagi untuk ABG seumuranku (umur-umur 15/16an itu faragile banget,plegmatis-melankolis, dapet masalah kecil aja udah nangis nangis gulung gulung - nggak tau apa yang mesti dilakuin) masalah yang sering dihadapi pastilah kebanyakan berupa masalah: percintaan,  pertemanan, sekolah, dsb... .

(dikutip dari majalah Gogirl! 102/Juli 2013 dengan sedikit perubahan dariku =3)

Menyimpan masalah sendirian bisa jadi sangaaaat berat. Tapi ada kalanya kita tidak bisa membicarakannya dengan orang lain, kalau memang merasa belum siap untuk cerita it’s not the end of the world girls. And the good news is, there’s a simple way to relieve our pain, at least for a while sampai kita merasa benar benar tenang. Soo, how? Ambil pulpen dan kertas, atau duduk manis di depan laptop, dan menumpahkan semua hal – unek unek yang mengganggu pikiran kita disana. Singkatnya, Write the Pain Away.


Your Feeling Matters



Menulis memang sudah lama dikenal bisa membuat kita merasa lebih lega, fisik maupun mental. Karena aktivitasnya yang personal, menulis membuat kita bebas untuk mengeluarkan semua keluh kesah tanpa butuh orang lain untuk ngebantuin kita. Di dunia psikologi, cara nulis ini disebut expressive writing, dimana kita nge-ekspresiin perasaan personal atau pemikiran lewat tulisan. Jadi, tulisannya beneran fokus untuk ngeluarin sebebas-bebasnya isi hati-unek unek kita sampai ngerasa lega, tanpa meduliin tata bahasa atau bahkan kesopanan pemilihan katanya. Karena itu, nggak jarang orang makai bahasa slang atau kata – kata kasar di penulisan ekspresif. Saat nulis, kita bisa menjawab suatu pertanyaan di dalam diri kita, nyatain opini pribadi, atau cerita pengalaman personal kita sehari hari bahkan yang traumatis sekalipun seperti kehilangan seseorang atau ngadepin perceraian orangtua.
Dan enaknya, disini kita nggak usah takut di-judge atau di kritik orang. You can talk about everything, even cry or curse, to make your heart feel better. Just shout and scream it out loud.

(Biasanya aku nulis permasalahanku sehari hari diblog. Jadi let me make it straight, THIS IS MY BLOG , MY WORLD, IF YOU HATE ME JUST GET OUT FROM HERE AND GO STRAIGHT TO HELL INSTEAD.  AND IF YOU WANNNA PICK A FIGHT WITH ME I’M GLADLY TAKING IT.)



Choose Your Own Way



Mungkin kita sebenernya udah sering liat atau ngelakuin yang namanya expressive writing, misalnya aja:

  1. Diary/jurnal/blog
  2. Lagu
  3. Autobiografi
  4. Puisi
  5. Quotes
  6. Opini

Kita bisa memilih media mana yang paling nyaman buat kita.


Why Should We Write? (Part. I)



Good Qustion, Why should we write?
Karena menurut jurnal di Advances in Psychiatric Treatment yang ditulis Karen A. Baikie dan Kay Wilhelm, nulis ekspresif bisa punya long term benefit terhadap kesehatan kita, mulai dari perbaikan fungsi imun tubuh, ngurangin tekanan darah, bahkan memperbaiki fungsi liver dan paru-paru. Selain itu, secara psikologis orang yang nulis mengalami perbaikan mood, juga ngurangin gejala depresi setelah trauma. Bahkan penelitian yang dilakukan James Pennebaker, salah satu peneliti utama tentang penulisan ekspresif menunjukkan kalau orang yang nulis ekspresif terbukti punya IPK yang lebih tinggi dan jarang absen dari tempat kerja.
Ini bisa terjadi karena ketikan kita nuangin perasaan/pengalaman jadi kata-kata, kita bisa bikin perasaan/pengalaman itu lebih dimengerti dan dikontrol, bahkan ngasih kita makna yang baru lagi. Karena ketika kita nulis, kita jadi bisa ngambil jarak dari pengalaman itu dan bisa berkaca tentang apa yang terjadi, gimana caranya buat ngadepin hal itu, juga bikin kita ngerasa nggak terlalu tegang lagi ngadepin suatu masalah.


Why Should We Write? (Part. II)



When you do expressive writing, don’t think about how to write well. Kita bisa lakuin hal-hal berikut ini:

  1. Cari tempat yang nyaman, kalau bisa yang private dan free distraction. Matiin HP dan juga TV.
  2. Kosongin waktu sekitar 15 – 30 menit
  3. Alatnya bebas banget, bisa pakai pulpen dan kertas, atau malah gadget kayak laptop atau tablet.
  4. Nggak usah mikirin juga harus nulis apa atau kayak gimana. Let it come naturally. Keluarin hal yang paling ngehimpit hati saat itu.
  5. Pas mulai, tulis, tulis, dan tulis tanpa berhenti. Sekali lagi, nggak usah takut sama ejaan atau tata bahasa. Kita lagi mengeksplor diri, jadi nggak ada istilah bagus jelek. You’re absolutely free.
  6. Kalau takut dibaca orang, kita bisa banget post di private blog, password-protected document, atau nulis di kertas dan ngebakarnya setelah selesai.

After that, spare some time to calm ourselves. Nggak jarang, we face our darkest fears as we write. But you might feel very light after that. Kita bisa ulang sesi ini sampai 3-4 hari dalam seminggu untuk ngeluarin semua unek-unek sampai lega banget.


Caution:



  1. Nggak jarang banget, ketika kita nulis sesuatu yang sangat personal dan traumatis, we might cry. Kalau di tengah penulisan, kita merasa overwhelmed, we can stop writing for that session.
  2. Di awal, mungkin kita ngerasa malah makin sedih setelah selesai nulis. But don’t worry, perasaan ini akan hilang dalam 1-2 jam kok. Sedangkan benefit-nya akan kerasa secara jangka panjang.
  3. Kalau kita mutusin buat publikasiin tulisan kita di sosmed (blog,wordpress,Path,twitter,atau Facebook, and any other their siblings...), sadarilah bahwa persepsi orang yang beda-beda tentang itu. Misalnya kalau ngomongin sakitnya backstabbed di tulisan kita, temen bisa mikir itu tentang dia terus bisa jadi marah-marah sama kita padahal mungkin dia salah ngerti.
  4. Writing is just first aid. Kalau ada masalah yang perlu dipecahkan, don’t forget to ask for help from outside, and do real action to solve it.
  5. Pada dasarnya nulis ekspresif itu sehat. Tapi kalau kita terlalu terus terusan fokus sama sisi negatifnya, ternyata bisa nggak sehat juga lho. Misalnya, bisa aja sih kita nulis berminggu minggu tentang mantan yang udah ngecewain. Tapi kalau kelamaan gitu terus, kita bisa terpaku sama perasaan itu. To prevent this, kita bisa balance dengan nulis tentang good impact of not to be with him anymore.





No comments: